Penggunaan AI dalam penulisan skripsi membuat banyak mahasiswa bertanya-tanya apakah dosen dapat mengetahui bahwa sebuah tulisan dibuat dengan bantuan AI. Pertanyaan ini semakin sering muncul karena saat ini tersedia berbagai AI detector yang mengklaim dapat memperkirakan apakah suatu teks dibuat oleh AI.
Namun, apakah dosen benar-benar bisa tahu jika skripsi dibuat dengan AI? Dosen dapat menemukan indikasi penggunaan AI, tetapi tidak ada cara yang dapat menjamin hanya dari sebuah tulisan atau skor AI detector. Penilaian dapat mempertimbangkan kualitas tulisan, proses pengerjaan, pemahaman mahasiswa, serta aturan akademik yang berlaku.
AI Detector Tidak Bisa Menjadi Bukti Tunggal
AI detector bekerja dengan menganalisis pola tertentu dalam teks dan memberikan perkiraan mengenai kemungkinan keterlibatan AI. Hasil tersebut bukan bukti pasti mengenai siapa yang menulis sebuah teks.
University of Kentucky menjelaskan bahwa AI detector menghasilkan estimasi berdasarkan analisis statistik dan dapat mengalami false positive maupun false negative. Efektivitasnya juga dapat berubah seiring perkembangan dan perubahan model AI.
Karena itu, skor AI detector sebaiknya tidak dipahami seperti hasil pencocokan teks pada pemeriksaan similarity. University of Minnesota juga menekankan adanya persoalan reliabilitas, bias, dan privasi pada AI detector, serta menyebut percakapan mengenai proses pengerjaan sebagai salah satu cara untuk memahami peran AI dalam pekerjaan mahasiswa.
Dosen Bisa Melihat Indikasi dari Proses Pengerjaan
Selain alat bantu teknologi, dosen dapat memiliki pertanyaan ketika menemukan perbedaan antara tulisan yang dikumpulkan dengan kemampuan atau proses kerja mahasiswa sebelumnya. Misalnya, mahasiswa kesulitan menjelaskan argumen tertentu, tidak memahami metode yang digunakan, atau tidak dapat menerangkan bagaimana sebuah bagian skripsi dikembangkan.
Hal tersebut bukan berarti perbedaan gaya tulisan otomatis membuktikan penggunaan AI. Justru, penilaian akademik yang lebih menyeluruh perlu melihat konteks dan bukti lain daripada hanya mengandalkan satu indikator.
Beberapa panduan akademik terbaru juga mendorong pendekatan yang memperhatikan proses belajar dan kemampuan mahasiswa menjelaskan pekerjaannya. Penelitian dan panduan dari Boise State University, misalnya, menyoroti keterbatasan AI detector dan menyarankan agar integritas akademik tidak bergantung pada output detector semata.
Apa yang Bisa Membuat Penggunaan AI Dipertanyakan?
Ada beberapa kondisi yang dapat membuat dosen ingin menanyakan proses pengerjaan skripsi lebih lanjut, misalnya:
- tulisan memiliki perubahan gaya yang sangat mencolok dibandingkan pekerjaan sebelumnya;
- mahasiswa kesulitan menjelaskan argumen yang terdapat dalam skripsinya sendiri;
- terdapat informasi atau referensi yang tidak dapat ditemukan atau diverifikasi;
- mahasiswa tidak dapat menjelaskan proses memperoleh atau mengolah data;
- penggunaan AI tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan dosen atau program studi.
Namun, hal-hal tersebut bukan bukti otomatis bahwa skripsi dibuat dengan AI. Misalnya, tulisan yang lebih formal atau penggunaan bahasa yang rapi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa sebuah teks dihasilkan AI.
Cara Memastikan Skripsi Tetap Dapat Dipertanggungjawabkan
Daripada berfokus pada cara agar tulisan tidak terdeteksi, mahasiswa sebaiknya memastikan proses pengerjaan skripsinya benar-benar dapat dijelaskan. Simpan catatan penelitian, sumber yang digunakan, data, draf, revisi, dan perkembangan tulisan selama proses penyusunan skripsi.
Jika penggunaan AI diperbolehkan, gunakan sesuai batas yang ditentukan dan ikuti ketentuan mengenai disclosure. Dengan begitu, mahasiswa dapat menjelaskan kapan dan untuk keperluan apa AI digunakan apabila hal tersebut ditanyakan.
Pendekatan ini lebih penting daripada sekadar mengejar hasil tertentu pada AI detector. University of Iowa dan beberapa institusi lain menyoroti bahwa AI detector memiliki keterbatasan dan tidak seharusnya diperlakukan sebagai bukti tunggal dalam menilai integritas akademik.
Kesimpulan
Dosen dapat menemukan indikasi penggunaan AI dalam skripsi, tetapi tidak ada AI detector yang dapat memastikan secara mutlak bahwa sebuah skripsi dibuat oleh AI. Hasil detector juga memiliki keterbatasan sehingga tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk menilai pelanggaran akademik.
Yang paling penting bagi mahasiswa ialah memahami isi skripsinya sendiri dan dapat mempertanggungjawabkan proses penelitian serta penulisannya. Jika menggunakan AI, pastikan penggunaannya sesuai aturan kampus, dosen, atau program studi dan lakukan disclosure apabila diwajibkan.
FAQ
Apakah dosen bisa mengetahui kalau saya menggunakan ChatGPT?
Dosen dapat menemukan indikasi atau mempertanyakan proses pengerjaan, tetapi tidak ada cara yang selalu dapat memastikan penggunaan ChatGPT hanya dari hasil tulisan.
Apakah AI detector bisa membuktikan skripsi dibuat dengan AI?
Tidak secara mutlak. AI detector menghasilkan perkiraan dan dapat mengalami kesalahan, sehingga hasilnya tidak seharusnya menjadi satu-satunya bukti pelanggaran akademik.
Apakah tulisan yang terdeteksi AI berarti pasti dibuat oleh AI?
Tidak. AI detector dapat menghasilkan false positive, sehingga tulisan manusia juga dapat memperoleh hasil yang mengindikasikan kemungkinan penggunaan AI.