Landasan teori membantu menjelaskan konsep dan teori yang menjadi dasar sebuah penelitian. Saat menyusunnya, mahasiswa perlu membaca berbagai sumber, memahami pendapat para ahli, lalu menghubungkan informasi tersebut dengan masalah penelitian yang sedang dibahas.
Namun, banyaknya referensi dapat membuat proses penulisan terasa rumit, terutama ketika harus menjelaskan teori dengan kalimat sendiri tanpa kehilangan makna aslinya. Lantas, bagaimana cara menghindari plagiarisme saat menyusun landasan teori? Kuncinya bukan sekadar mengganti kata, melainkan memahami sumber, mencatat referensi, dan mengolah informasi secara benar. Berikut langkah praktis yang bisa diterapkan saat menulis bab landasan teori.
1. Pahami Teori Sebelum Mulai Menulis
Kesalahan yang sering terjadi adalah menyalin uraian dari jurnal atau buku, kemudian mengganti beberapa kata agar terlihat berbeda. Cara tersebut berisiko menghasilkan tulisan yang masih terlalu dekat dengan sumber dan menunjukkan bahwa penulis belum benar-benar mengolah informasi yang dibaca.
Sebelum menulis, baca bagian sumber yang relevan dan pahami konsep utamanya. Setelah itu, tutup atau jauhkan sumber sejenak, lalu jelaskan kembali pemahamanmu dengan kalimat sendiri tanpa mengubah makna teori.
Sebagai contoh, ketika membaca teori tentang motivasi belajar, jangan langsung memindahkan definisi dari buku ke skripsi. Catat dahulu unsur penting dari teori tersebut, kemudian susun penjelasan yang sesuai dengan kebutuhan penelitianmu dan tetap cantumkan sumbernya.
2. Catat Sumber Setiap Kali Mengambil Informasi
Mencatat referensi sejak awal dapat mencegah informasi kehilangan asalnya ketika proses penulisan semakin panjang. Kebiasaan ini juga mengurangi risiko harus mencari ulang sumber setelah bab landasan teori selesai ditulis.
Saat membaca buku, jurnal, atau penelitian terdahulu, simpan informasi berikut:
- Nama penulis dan tahun publikasi.
- Judul buku, artikel, atau penelitian.
- Nama jurnal atau penerbit.
- Nomor halaman jika diperlukan untuk kutipan.
- Tautan atau identitas publikasi yang memudahkan penelusuran kembali.
Gunakan aplikasi pengelola referensi atau catatan sederhana jika membantu. Yang terpenting, pastikan informasi yang dicatat sesuai dengan sumber asli dan dapat digunakan untuk menyusun sitasi serta daftar pustaka.
3. Bedakan Kutipan Langsung, Parafrase, dan Sintesis
Ketiganya dapat digunakan dalam landasan teori, tetapi memiliki fungsi yang berbeda.
Kutipan langsung
Kutipan langsung mengambil kata-kata dari sumber sebagaimana aslinya. Gunakan cara ini ketika redaksi asli memang penting untuk dibahas, lalu ikuti aturan tanda kutip, format, dan pencantuman halaman sesuai pedoman sitasi yang digunakan.
Jangan menggunakan kutipan langsung secara berlebihan hanya karena lebih mudah daripada menjelaskan teori dengan kalimat sendiri. Pastikan kutipan mendukung pembahasan dan tidak menggantikan analisis penulis.
Parafrase
Parafrase menyampaikan gagasan sumber menggunakan susunan kalimat sendiri tanpa mengubah makna utamanya. Meski redaksinya berbeda, gagasan yang berasal dari penulis lain tetap perlu disertai sitasi.
Contohnya, jika sumber menjelaskan bahwa motivasi dapat mendorong seseorang untuk mencapai tujuan belajar, kamu dapat menguraikan hubungan motivasi dengan usaha mahasiswa dalam mencapai target akademik menggunakan pemahamanmu sendiri. Pastikan uraian tersebut tetap sesuai dengan teori yang dirujuk.
Sintesis beberapa sumber
Sintesis berarti menghubungkan gagasan dari beberapa sumber untuk menjelaskan suatu konsep, menemukan persamaan atau perbedaan, atau membangun dasar pemikiran penelitian. Cara ini membantu landasan teori tidak hanya berisi rangkaian ringkasan dari satu sumber ke sumber berikutnya.
Namun, sintesis bukan berarti menggabungkan kalimat dari beberapa jurnal tanpa pengolahan. Pahami kontribusi setiap sumber, susun hubungan antargagasan secara logis, lalu cantumkan sitasi untuk informasi yang digunakan.
4. Jangan Menghilangkan Sitasi Saat Melakukan Parafrase
Salah satu kekeliruan yang perlu dihindari adalah menganggap bahwa kalimat yang sudah diubah tidak lagi membutuhkan sitasi. Padahal, sitasi juga berfungsi mengakui pemilik gagasan, bukan hanya menunjukkan asal kalimat yang disalin secara persis.
Misalnya, kamu membaca teori dari seorang ahli melalui sebuah jurnal. Jika teori tersebut digunakan dalam landasan teori, rujuk sumber yang benar-benar kamu baca sesuai pedoman yang berlaku. Jika sumber aslinya tidak dibaca secara langsung, jangan menulis seolah-olah kamu telah membacanya; gunakan ketentuan kutipan sekunder dari gaya sitasi yang digunakan.
Pastikan pula setiap sitasi dalam teks memiliki pasangan yang sesuai di daftar pustaka apabila diwajibkan oleh gaya sitasi tersebut. Sebaliknya, periksa agar daftar pustaka tidak memuat sumber yang sebenarnya tidak pernah digunakan tanpa alasan yang jelas.
5. Susun Landasan Teori Berdasarkan Konsep, Bukan Urutan Jurnal
Landasan teori yang baik tidak hanya memindahkan isi referensi ke dalam skripsi. Kamu perlu mengelompokkan teori dan penelitian berdasarkan konsep yang relevan dengan rumusan masalah.
Sebagai contoh, jika penelitian membahas motivasi belajar dan prestasi akademik, kamu dapat menyusun pembahasan berdasarkan pengertian motivasi belajar, faktor yang memengaruhinya, konsep prestasi akademik, dan hubungan antara keduanya. Struktur akhirnya tetap harus mengikuti kebutuhan penelitian serta arahan pembimbing.
Dengan pengelompokan tersebut, setiap sumber memiliki fungsi yang jelas. Kamu juga lebih mudah menjelaskan hubungan antarkonsep daripada hanya meringkas jurnal satu per satu.
6. Periksa Ulang Landasan Teori Sebelum Dikumpulkan
Setelah selesai menulis, luangkan waktu untuk memeriksa isi dan rujukannya. Jangan hanya berfokus pada kelancaran kalimat karena ketepatan sumber dan kesesuaian teori juga penting.
Gunakan checklist berikut:
- Setiap teori, data, dan gagasan yang berasal dari sumber lain sudah diberi sitasi yang sesuai.
- Kutipan langsung mengikuti format yang ditentukan.
- Parafrase ditulis berdasarkan pemahaman sendiri, bukan sekadar mengganti sinonim.
- Sumber yang digunakan dapat ditelusuri dan mendukung pernyataan yang ditulis.
- Sitasi dalam teks dan daftar pustaka sudah dicocokkan.
- Uraian antarteori disusun secara logis dan relevan dengan penelitian.
- Bagian yang memiliki kemiripan dengan sumber lain sudah ditinjau berdasarkan konteksnya.
Jika menggunakan alat pemeriksa kemiripan, periksa bagian yang cocok dengan sumber lain dan tentukan apakah perlu diperbaiki.
Kesimpulan
Menghindari plagiarisme saat menyusun landasan teori membutuhkan proses yang dimulai dari membaca sumber secara cermat, mencatat referensi, dan mengolah informasi dengan pemahaman sendiri. Kutipan langsung, parafrase, dan sintesis dapat digunakan sesuai kebutuhan, selama gagasan dari sumber lain tetap diakui dengan benar.
Sebelum mengumpulkan skripsi, periksa kembali sitasi, daftar pustaka, serta hubungan antarkonsep dalam landasan teori. Dengan begitu, bab tersebut tidak hanya lebih tertib secara akademik, tetapi juga benar-benar menunjukkan pemahamanmu terhadap teori yang mendasari penelitian.
FAQ
Apakah semua teori dalam landasan teori harus disitasi?
Teori yang berasal dari pemikiran atau publikasi tertentu perlu dirujuk. Gunakan sumber yang relevan dan ikuti pedoman sitasi yang ditetapkan kampus.
Apakah parafrase bisa menghindari plagiarisme tanpa sitasi?
Tidak. Parafrase mengubah cara penyampaian gagasan, tetapi tidak menghilangkan kewajiban mengakui sumber gagasan tersebut.
Apakah landasan teori boleh menggabungkan beberapa jurnal?
Boleh, bahkan sintesis beberapa sumber dapat membantu membangun pembahasan yang lebih kuat. Pastikan hubungan antargagasan dijelaskan secara logis dan semua sumber yang digunakan dicantumkan dengan benar.