Menulis Akademik Karya Ilmiah Bahasa Indonesia

Istilah Asing dalam Karya Ilmiah Perlu Dicetak Miring?

Tidak semua istilah asing dalam karya ilmiah harus dicetak miring. Kenali perbedaannya dengan istilah yang sudah diserap dan cara mengeceknya melalui KBBI.

24 Agustus 2026 Nisrina Putri Dayani ยท SEO Article Writer 3 menit baca
Istilah Asing dalam Karya Ilmiah Perlu Dicetak Miring?

Saat menulis karya ilmiah berbahasa Indonesia, mahasiswa sering menemukan istilah dari bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Salah satu hal yang kerap membingungkan adalah apakah istilah tersebut harus selalu ditulis dengan huruf miring atau justru sudah dapat ditulis seperti kosakata bahasa Indonesia.

Jawabannya bergantung pada status istilah tersebut dalam bahasa Indonesia. Karena itu, sebelum menentukan format penulisannya, penting untuk melihat apakah istilah tersebut masih merupakan kata asing atau sudah diserap dan digunakan sebagai bagian dari kosakata bahasa Indonesia.

Istilah Asing yang Belum Diserap

Secara umum, kata atau ungkapan dari bahasa asing yang masih digunakan dalam bentuk aslinya dapat ditulis dengan huruf miring dalam teks berbahasa Indonesia. Pemiringan tersebut membantu menunjukkan bahwa kata tersebut berasal dari bahasa lain dan belum menjadi bagian dari kosakata bahasa Indonesia.

Misalnya, istilah stakeholder, feedback, atau benchmarking dapat diperlakukan sebagai istilah asing apabila masih digunakan dalam bentuk aslinya. Namun, penggunaan huruf miring bukan berarti semua istilah yang berasal dari bahasa asing harus selamanya ditulis demikian.

Istilah yang Sudah Diserap Tidak Perlu Dimiringkan

Bahasa Indonesia memiliki banyak kosakata yang berasal dari bahasa asing tetapi telah mengalami penyerapan. Ketika suatu kata sudah menjadi bagian dari kosakata bahasa Indonesia, penulisannya mengikuti kaidah bahasa Indonesia dan tidak perlu diperlakukan sebagai kata asing.

Karena itu, pengecekan melalui KBBI dapat membantu menentukan status suatu istilah. Kata seperti aktivitas, analisis, dan efektivitas, misalnya, sudah digunakan sebagai kosakata bahasa Indonesia sehingga tidak perlu ditulis miring hanya karena asal katanya dari bahasa lain.

KBBI Dapat Menjadi Acuan

Ketika ragu apakah sebuah istilah sudah menjadi kosakata bahasa Indonesia, mahasiswa dapat memeriksanya melalui KBBI. Jika bentuk kata tersebut tercatat sebagai lema bahasa Indonesia, penggunaannya tidak lagi diperlakukan sama seperti istilah asing yang masih ditulis dalam bentuk aslinya.

Pengecekan ini lebih aman daripada menentukan format hanya berdasarkan kebiasaan atau melihat bagaimana istilah tersebut ditulis dalam karya orang lain. Status sebuah kata dapat berubah seiring perkembangan dan pembakuan kosakata bahasa Indonesia.

Perhatikan Pedoman Kampus dan Gaya Selingkung

Selain mengikuti kaidah bahasa Indonesia, karya ilmiah juga perlu memperhatikan pedoman penulisan dari kampus atau jurnal yang dituju. Pedoman tersebut dapat memberikan ketentuan tambahan mengenai penggunaan istilah asing, terutama ketika istilah tertentu digunakan secara khusus dalam bidang ilmu tertentu.

Hal yang paling penting adalah konsistensi. Jika suatu istilah memang masih digunakan sebagai istilah asing dan perlu dicetak miring, gunakan format tersebut secara konsisten di seluruh bagian karya ilmiah sesuai pedoman yang berlaku.

Jangan Memiringkan Semua Istilah dari Bahasa Asing

Kesalahan yang cukup umum adalah menganggap setiap kata yang asal-usulnya dari bahasa asing harus dicetak miring. Padahal, yang menjadi pertimbangan bukan semata-mata asal kata, melainkan apakah kata tersebut masih digunakan sebagai istilah asing atau sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia.

Sebaliknya, tidak mencetak miring istilah asing yang memang masih digunakan dalam bentuk aslinya juga dapat membuat penulisan tidak sesuai kaidah. Karena itu, pemeriksaan status kata dan pedoman penulisan tetap diperlukan sebelum menentukan formatnya.

Kesimpulan

Istilah asing dalam karya ilmiah berbahasa Indonesia tidak selalu harus dicetak miring. Istilah yang masih digunakan dalam bentuk asing umumnya ditulis miring, sedangkan kata yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia mengikuti penulisan bahasa Indonesia.

Untuk memastikan penggunaannya, mahasiswa dapat memeriksa KBBI dan EYD Edisi V, kemudian menyesuaikannya dengan pedoman karya ilmiah atau gaya selingkung kampus dan jurnal. Dengan begitu, penggunaan huruf miring tidak hanya berdasarkan perkiraan, tetapi memiliki dasar yang jelas dan konsisten.

FAQ

Apakah semua kata bahasa Inggris dalam karya ilmiah harus dicetak miring?

Tidak. Kata yang masih digunakan sebagai istilah asing dapat dicetak miring, sedangkan kata yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia tidak perlu diperlakukan sebagai istilah asing.

Bagaimana cara mengetahui istilah asing sudah diserap atau belum?

Salah satu cara paling mudah adalah memeriksa kata tersebut di KBBI. Jika kata tersebut sudah tercatat sebagai kosakata bahasa Indonesia, penulisannya mengikuti kaidah bahasa Indonesia.

Apakah pedoman kampus tetap perlu diperiksa?

Ya. Selain mengikuti kaidah bahasa Indonesia, karya ilmiah perlu mengikuti pedoman penulisan dan gaya selingkung yang berlaku di kampus atau jurnal tempat karya tersebut akan digunakan.

#istilah asing #karya ilmiah #huruf miring #eyd #kbbi