Mengerjakan skripsi sekarang tidak selalu berarti harus bekerja sepenuhnya tanpa bantuan teknologi. Kehadiran AI seperti ChatGPT membuat mahasiswa bisa mendapatkan bantuan untuk mencari ide, memahami materi, menyusun kerangka, hingga memperbaiki tulisan dalam waktu yang lebih singkat.
Namun, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting, sebenarnya bolehkah AI digunakan untuk membantu menulis skripsi? Jawabannya tidak sesederhana boleh atau tidak, karena ada aturan kampus, batas penggunaan, dan tanggung jawab akademik yang perlu dipahami sebelum AI dilibatkan dalam proses pengerjaan skripsi.
Apakah AI Boleh Digunakan untuk Skripsi?
Penggunaan artificial intelligence (AI) dalam pengerjaan skripsi tidak bisa langsung dianggap boleh atau dilarang secara mutlak. Beberapa perguruan tinggi telah memiliki pedoman yang memperbolehkan penggunaan AI dalam konteks tertentu, selama mahasiswa tetap bertanggung jawab terhadap karya yang dihasilkan.
Misalnya, Universitas Indonesia melalui Peraturan Rektor Nomor 16 Tahun 2025 mengatur penggunaan generative AI dalam penulisan ilmiah, termasuk kewajiban untuk memperhatikan transparansi, verifikasi informasi, sitasi, dan integritas akademik. Aturan tersebut juga menegaskan bahwa AI tidak dapat ditempatkan sebagai penulis karya ilmiah.
Artinya, menggunakan AI untuk membantu proses pengerjaan skripsi belum tentu menjadi pelanggaran. Yang perlu diperhatikan adalah untuk apa AI digunakan, bagaimana hasilnya digunakan, serta apakah penggunaannya sesuai dengan aturan kampus dan program studi.
Mengapa Aturan Penggunaan AI Bisa Berbeda?
Belum ada satu batasan yang berlaku dengan cara yang sama untuk seluruh mahasiswa. Perguruan tinggi, fakultas, program studi, bahkan dosen dapat memiliki ketentuan tersendiri mengenai penggunaan generative AI dalam kegiatan akademik.
Beberapa pedoman akademik, seperti yang diterbitkan University of Oxford dan University of Birmingham, juga membedakan penggunaan AI sebagai alat bantu dengan menyerahkan hasil yang dihasilkan AI sebagai karya mahasiswa sendiri. Karena itu, mahasiswa perlu memahami aturan yang berlaku di lingkungan akademiknya sebelum menggunakan AI dalam skripsi.
Kalau kampus atau dosen memberikan batasan tertentu, aturan tersebut tetap menjadi acuan utama. Jangan sampai penggunaan AI yang sebenarnya dimaksudkan untuk membantu justru dianggap melanggar ketentuan karena dilakukan tanpa memperhatikan kebijakan yang berlaku.
AI Membantu Proses, Bukan Menggantikan Mahasiswa
AI dapat digunakan untuk membantu beberapa pekerjaan dalam proses penelitian dan penulisan, misalnya mencari ide awal, menyusun kerangka, membantu memahami konsep, memeriksa bahasa, atau mendukung pekerjaan teknis tertentu jika memang diizinkan.
Namun, mahasiswa tetap harus memahami isi skripsinya sendiri. Pemilihan argumen, analisis hasil penelitian, interpretasi data, penggunaan sumber, hingga kesimpulan tetap menjadi bagian yang perlu dipertanggungjawabkan oleh penulis skripsi.
Hal ini penting karena AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, referensi yang tidak akurat, atau jawaban yang terlihat meyakinkan tetapi tidak memiliki dasar yang benar. Penggunaan AI karenanya tetap membutuhkan proses pengecekan dan penilaian kritis dari mahasiswa.
Perlukah Penggunaan AI Dicantumkan?
Dalam beberapa kebijakan perguruan tinggi, penggunaan AI perlu dinyatakan atau diakui, terutama jika AI digunakan secara substantif dalam proses penulisan atau penelitian. Bentuk pengakuan tersebut dapat berbeda sesuai ketentuan masing-masing institusi.
Karena itu, jangan menganggap bahwa penggunaan AI selalu harus disembunyikan atau sebaliknya selalu harus dicantumkan dengan format yang sama. Periksa pedoman kampus, fakultas, program studi, atau arahan dosen pembimbing untuk mengetahui bentuk disclosure yang berlaku.
Kesimpulan
Jadi, bolehkah menggunakan AI untuk membantu menulis skripsi? Jawabannya bergantung pada kebijakan akademik yang berlaku dan bagaimana AI tersebut digunakan. AI dapat menjadi alat bantu dalam proses pengerjaan skripsi, tetapi tidak menggantikan tanggung jawab mahasiswa terhadap isi, keakuratan, dan orisinalitas karya.
Setelah proses penulisan selesai, jangan lupa memeriksa kembali naskah sebelum dikumpulkan. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mengecek tingkat similarity untuk memastikan tidak ada kemiripan dengan sumber lain yang tidak semestinya. Jika membutuhkan pengecekan tambahan, kamu bisa menggunakan layanan Cek Plagiasi No-Repository untuk meninjau similarity pada naskah skripsi.
FAQ
1. Apakah mahasiswa boleh menggunakan ChatGPT untuk skripsi?
Bisa saja jika penggunaan tersebut diperbolehkan oleh kampus atau dosen dan dilakukan dalam batas yang ditentukan. Mahasiswa tetap bertanggung jawab atas isi skripsinya.
2. Apakah penggunaan AI dalam skripsi termasuk plagiasi?
Penggunaan AI tidak otomatis berarti plagiasi. Namun, menyalin hasil AI tanpa pemeriksaan, atribusi, atau mengikuti aturan akademik yang berlaku dapat menimbulkan persoalan integritas akademik.
3. Apakah penggunaan AI dalam skripsi harus dicantumkan?
Tergantung kebijakan institusi. Beberapa perguruan tinggi memiliki ketentuan disclosure atau pengakuan penggunaan AI, sehingga mahasiswa perlu memeriksa pedoman yang berlaku.