Metodologi Penelitian Skripsi Penulisan Ilmiah

Apa Itu Identifikasi Masalah dalam Penelitian? Ini Penjelasannya

Masih bingung memahami identifikasi masalah? Kenali pengertian, fungsi, sumber, ciri, dan contoh penyusunannya sebelum melanjutkan penelitian skripsi.

21 Oktober 2026 Nisrina Putri Dayani · SEO Article Writer 5 menit baca
Apa Itu Identifikasi Masalah dalam Penelitian? Ini Penjelasannya

Sebelum melakukan penelitian, mahasiswa perlu memahami persoalan yang ingin dikaji. Persoalan tersebut tidak cukup hanya disebutkan secara umum, tetapi perlu dikenali dengan jelas agar penelitian memiliki arah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Proses mengenali dan menguraikan persoalan itu disebut identifikasi masalah. Apa sebenarnya identifikasi masalah dalam penelitian, apa fungsinya, dan seperti apa contohnya dalam skripsi? Berikut penjelasannya.

Apa Itu Identifikasi Masalah?

Identifikasi masalah adalah proses mengenali, menguraikan, dan mencatat persoalan yang muncul dalam suatu fenomena atau bidang kajian yang berpotensi diteliti. Proses ini membantu peneliti memahami aspek-aspek yang bermasalah sebelum menentukan fokus penelitian secara lebih spesifik.

Masalah dapat ditemukan melalui pengamatan, pengalaman, diskusi, wawancara pendahuluan, laporan, atau kajian terhadap penelitian terdahulu. Namun, tidak semua persoalan yang ditemukan otomatis layak diteliti. Peneliti tetap perlu memahami dasar masalah tersebut dan mempertimbangkan apakah persoalan itu dapat dikaji melalui metode ilmiah.

Dalam skripsi, identifikasi masalah membantu menjelaskan persoalan yang berkaitan dengan topik penelitian. Bentuk dan penempatannya dapat berbeda sesuai pedoman kampus serta pendekatan penelitian yang digunakan.

Fungsi Identifikasi Masalah dalam Penelitian

Identifikasi masalah bukan sekadar bagian administratif dalam Bab I skripsi. Proses ini membantu peneliti memahami ruang persoalan sebelum menentukan fokus yang akan dikaji.

Berikut beberapa fungsinya.

1. Memetakan Persoalan yang Ditemukan

Satu fenomena dapat memiliki beberapa persoalan yang saling berkaitan. Identifikasi masalah membantu peneliti menguraikan persoalan tersebut agar tidak hanya berpegang pada dugaan awal.

Misalnya, rendahnya partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelas dapat berkaitan dengan metode pembelajaran, rasa percaya diri, kesempatan berbicara, atau kondisi kelas. Semua kemungkinan tersebut perlu dipahami terlebih dahulu, bukan langsung dianggap sebagai penyebab yang sudah terbukti.

2. Menunjukkan Aspek yang Perlu Dikaji

Setelah persoalan dipetakan, peneliti dapat mengenali aspek mana yang perlu ditelaah lebih lanjut. Langkah ini membantu penelitian tidak berhenti pada pernyataan umum seperti “partisipasi mahasiswa masih rendah”.

Peneliti perlu memahami bentuk persoalan yang terjadi dan informasi apa yang dibutuhkan untuk menjelaskannya. Dengan begitu, penelitian dapat dibangun berdasarkan masalah yang lebih jelas.

3. Membantu Memperjelas Arah Penelitian

Identifikasi masalah memberikan gambaran mengenai persoalan yang berkaitan dengan topik penelitian. Gambaran ini dapat digunakan untuk menentukan fokus yang akan dikaji lebih lanjut.

Jika persoalan yang ditemukan terlalu banyak, peneliti dapat mempertimbangkan keterbatasan waktu, sumber daya, data, dan ruang lingkup penelitian sebelum menentukan bagian yang akan diteliti.

4. Menjadi Dasar bagi Tahapan Penelitian Berikutnya

Persoalan yang sudah diidentifikasi membantu peneliti menyusun arah penelitian selanjutnya. Dalam banyak rancangan skripsi, hasil identifikasi menjadi salah satu pertimbangan saat menentukan batasan dan rumusan masalah.

Hubungan antarbagiannya harus tetap logis. Fokus penelitian tidak seharusnya muncul dari persoalan yang sama sekali belum dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya.

Dari Mana Identifikasi Masalah Dapat Ditemukan?

Masalah penelitian dapat berasal dari berbagai sumber. Mahasiswa tidak harus selalu menunggu persoalan besar atau fenomena yang sedang ramai dibicarakan untuk mulai mengenalinya.

Beberapa sumber yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • Pengamatan langsung: menemukan kondisi yang berbeda dari harapan dalam lingkungan kampus, tempat kerja, masyarakat, atau konteks lain yang relevan.
  • Pengalaman sehari-hari: mengenali persoalan yang berulang, kemudian memeriksa apakah persoalan tersebut dapat dikaji secara ilmiah.
  • Diskusi dan wawancara pendahuluan: memperoleh gambaran awal dari orang yang mengalami atau memahami fenomena tersebut.
  • Laporan dan data yang tersedia: memeriksa informasi yang menunjukkan kondisi atau perubahan tertentu.
  • Penelitian terdahulu: memahami temuan yang telah ada dan aspek yang masih perlu diperiksa lebih lanjut.
  • Teori atau konsep ilmiah: mengenali pertanyaan yang muncul ketika suatu konsep diterapkan pada kondisi tertentu.

Sumber-sumber tersebut dapat digunakan bersama. Misalnya, pengamatan awal dapat memunculkan pertanyaan yang kemudian diperiksa melalui laporan atau penelitian terdahulu.

Bagaimana Bentuk Identifikasi Masalah?

Identifikasi masalah dapat disajikan sebagai uraian atau daftar persoalan, bergantung pada pedoman penulisan dan kebutuhan penelitian. Intinya, bagian ini perlu menjelaskan persoalan yang ditemukan secara spesifik dan relevan dengan topik.

Pernyataan yang terlalu umum akan sulit membantu peneliti menentukan arah kajian. Sebaliknya, uraian yang jelas membuat pembaca memahami persoalan apa yang menjadi perhatian.

Perhatikan contoh berikut.

Topik penelitian: Partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelas.

Contoh identifikasi masalah:

  1. Partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelas terlihat berbeda antara satu kelompok dan kelompok lainnya.
  2. Sebagian mahasiswa cenderung menyampaikan pendapat, sedangkan sebagian lainnya lebih sering menjadi pendengar.
  3. Belum diketahui bagaimana mahasiswa memaknai kesempatan untuk menyampaikan pendapat dalam diskusi kelas pada konteks yang akan diteliti.

Contoh tersebut bersifat ilustratif, bukan pernyataan fakta tentang semua mahasiswa. Dalam skripsi sebenarnya, persoalan harus disusun berdasarkan kondisi atau bukti yang ditemukan, bukan sekadar dugaan.

Cara Menyusun Identifikasi Masalah

Jika sudah menemukan fenomena yang ingin dikaji, kamu dapat menyusun identifikasi masalah melalui langkah-langkah berikut.

  1. Kenali fenomena yang diamati. Jelaskan kondisi atau peristiwa yang menjadi perhatian, termasuk konteks terjadinya.
  2. Kumpulkan informasi awal. Gunakan pengamatan, laporan, diskusi, wawancara pendahuluan, atau sumber lain yang sesuai untuk memahami persoalan.
  3. Uraikan persoalan yang berkaitan. Catat aspek-aspek yang muncul tanpa langsung menganggap semuanya sebagai penyebab yang terbukti.
  4. Periksa dasar setiap pernyataan. Pastikan persoalan yang ditulis didukung oleh informasi yang memadai dan bukan hanya asumsi pribadi.
  5. Susun pernyataan secara spesifik. Gunakan kalimat yang menjelaskan masalah dengan jelas dan sesuai konteks.
  6. Periksa kesesuaiannya dengan topik. Pastikan persoalan yang diidentifikasi masih berhubungan dengan bidang dan tujuan penelitian yang sedang dikembangkan.

Langkah tersebut membantu mahasiswa menghasilkan identifikasi masalah yang lebih terarah. Penyesuaian tetap diperlukan karena setiap bidang ilmu dan pendekatan penelitian dapat memiliki kebutuhan yang berbeda.

Apa Ciri Identifikasi Masalah yang Baik?

Identifikasi masalah yang baik tidak ditentukan oleh banyaknya persoalan yang ditulis. Hal yang lebih penting adalah kejelasan, relevansi, dan dasar informasi yang digunakan.

Beberapa ciri yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Jelas: pembaca dapat memahami persoalan yang dimaksud tanpa harus menebak-nebak.
  • Relevan: masalah berhubungan dengan topik dan bidang penelitian.
  • Memiliki dasar: pernyataan didukung pengamatan, data, literatur, atau informasi yang dapat diperiksa.
  • Spesifik: uraian tidak berhenti pada keluhan atau pernyataan yang terlalu luas.
  • Dapat dikaji: persoalan memungkinkan untuk ditelaah melalui pendekatan penelitian yang sesuai.

Jika identifikasi masalah masih berupa pernyataan umum, perjelas konteks dan informasi yang mendasarinya. Namun, hindari menuliskan dugaan sebagai fakta hanya agar persoalan terlihat lebih kuat.

Kesimpulan

Identifikasi masalah dalam penelitian adalah proses mengenali dan menguraikan persoalan yang berkaitan dengan suatu fenomena sebelum menentukan fokus penelitian. Proses ini membantu mahasiswa memetakan masalah, memahami aspek yang perlu dikaji, dan menyiapkan dasar bagi tahapan penelitian berikutnya.

Untuk menyusunnya, mulailah dari fenomena yang jelas, kumpulkan informasi pendukung, lalu uraikan persoalan secara spesifik. Pastikan setiap pernyataan memiliki dasar yang memadai dan sesuaikan bentuk penulisannya dengan pedoman skripsi yang berlaku.

FAQ

Apakah identifikasi masalah wajib ada dalam setiap skripsi?

Struktur skripsi berbeda-beda menurut perguruan tinggi, program studi, dan pendekatan penelitian. Periksa pedoman penulisan yang berlaku untuk mengetahui apakah identifikasi masalah harus menjadi subbagian tersendiri.

Apakah identifikasi masalah harus berbentuk daftar?

Tidak selalu. Identifikasi masalah dapat disajikan dalam bentuk daftar atau uraian sesuai kebutuhan dan pedoman kampus.

Apakah identifikasi masalah boleh berasal dari pengalaman pribadi?

Pengalaman pribadi dapat menjadi titik awal untuk mengenali persoalan. Namun, masalah yang akan diteliti tetap perlu diperiksa melalui informasi, data, atau dasar ilmiah yang relevan.

#identifikasi masalah #penelitian #skripsi #metodologi penelitian #masalah penelitian #bab 1 skripsi