Dalam penyusunan skripsi, identifikasi masalah dan rumusan masalah sering dianggap sama karena keduanya membahas persoalan yang akan diteliti. Padahal, kedua bagian tersebut memiliki fungsi berbeda dalam membantu peneliti menentukan arah kajian.
Lantas, apa perbedaan identifikasi masalah dan rumusan masalah, dan bagaimana keduanya saling berhubungan? Untuk memahaminya, perhatikan perbedaan tujuan, bentuk penulisan, serta contoh penerapannya dalam penelitian.
Apa Perbedaan Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah?
Perbedaan utamanya terletak pada fungsi masing-masing bagian. Identifikasi masalah digunakan untuk memetakan persoalan yang ditemukan, sedangkan rumusan masalah menyatakan pertanyaan atau fokus yang hendak dijawab melalui penelitian.
Dengan kata lain, identifikasi masalah membantu menunjukkan apa saja persoalan yang perlu diperhatikan. Rumusan masalah kemudian memperjelas hal yang ingin diketahui melalui penelitian agar proses pengumpulan dan analisis data memiliki arah.
Perbedaan Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah
Berikut perbandingan kedua bagian tersebut berdasarkan beberapa aspek.
1. Tujuan Penulisan
Identifikasi masalah bertujuan menguraikan persoalan yang ditemukan dalam suatu fenomena. Bagian ini membantu peneliti memahami aspek-aspek yang berkaitan dengan topik sebelum menentukan fokus kajian.
Sementara itu, rumusan masalah bertujuan menyatakan hal yang ingin dijawab atau dipahami melalui penelitian. Pertanyaannya perlu cukup jelas agar dapat menjadi acuan dalam menentukan data dan metode yang dibutuhkan.
2. Bentuk Penulisan
Identifikasi masalah dapat berbentuk daftar atau uraian mengenai persoalan yang ditemukan. Bentuknya menyesuaikan pedoman penulisan dan kebutuhan penelitian.
Rumusan masalah umumnya disajikan sebagai pertanyaan penelitian, meskipun beberapa pedoman memungkinkan bentuk pernyataan. Pertanyaan tersebut harus sesuai dengan fokus kajian dan dapat dijawab melalui proses penelitian.
3. Cakupan Pembahasan
Identifikasi masalah dapat mencakup beberapa persoalan yang berkaitan dengan fenomena. Tidak semua persoalan yang ditemukan harus diteliti sekaligus.
Rumusan masalah lebih terarah pada hal yang dipilih untuk dikaji. Fokus ini perlu mempertimbangkan tujuan penelitian, ketersediaan data, waktu, sumber daya, serta batasan penelitian.
4. Hubungan dengan Tahapan Penelitian
Identifikasi masalah membantu peneliti memetakan persoalan yang mendasari penelitian. Hasilnya menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan fokus yang akan diteliti.
Rumusan masalah kemudian menjadi acuan untuk menyusun tujuan penelitian, menentukan informasi yang perlu dikumpulkan, memilih metode yang sesuai, dan mengarahkan pembahasan hasil.
Urutan dan nama subbagian dapat berbeda menurut pedoman kampus. Karena itu, hubungan fungsi kedua bagian perlu dipahami tanpa menganggap semua skripsi harus menggunakan format yang persis sama.
Contoh Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah
Misalnya, seorang mahasiswa ingin meneliti partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelas. Dari pengamatan awal, mahasiswa tersebut menemukan beberapa persoalan yang perlu dipahami lebih lanjut.
Contoh identifikasi masalah:
- Partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelas terlihat berbeda antara satu kelompok dan kelompok lainnya.
- Sebagian mahasiswa lebih sering menyampaikan pendapat, sedangkan sebagian lainnya cenderung menjadi pendengar.
- Belum diketahui bagaimana mahasiswa memaknai kesempatan untuk menyampaikan pendapat dalam diskusi kelas pada konteks yang akan diteliti.
Dari beberapa persoalan tersebut, peneliti kemudian menentukan fokus yang ingin dikaji. Misalnya, penelitian diarahkan pada pengalaman mahasiswa ketika menyampaikan pendapat dalam diskusi kelas.
Contoh rumusan masalah:
“Bagaimana mahasiswa memaknai kesempatan untuk menyampaikan pendapat dalam diskusi kelas pada konteks yang diteliti?”
Contoh ini memperlihatkan bahwa identifikasi masalah memetakan beberapa persoalan, sedangkan rumusan masalah menentukan pertanyaan yang menjadi fokus penelitian. Pernyataan tersebut hanya ilustrasi; rumusan sebenarnya perlu disesuaikan dengan kondisi awal, tujuan, dan pendekatan penelitian.
Bagaimana Mengubah Identifikasi Masalah Menjadi Rumusan Masalah?
Mengubah identifikasi masalah menjadi rumusan masalah bukan berarti sekadar menambahkan kata tanya di depan setiap pernyataan. Peneliti perlu menentukan persoalan yang paling sesuai dengan tujuan dan ruang lingkup penelitian.
Kamu dapat mengikuti langkah berikut.
- Baca kembali seluruh identifikasi masalah. Pastikan kamu memahami persoalan yang telah diuraikan dan hubungan antarpersoalannya.
- Tentukan fokus penelitian. Pilih persoalan yang paling relevan dengan tujuan, dapat dikaji secara ilmiah, dan sesuai dengan kemampuan penelitian.
- Perjelas hal yang ingin diketahui. Tentukan apakah penelitian bertujuan menggambarkan kondisi, memahami pengalaman, menguji hubungan, membandingkan kelompok, atau menjawab pertanyaan lain.
- Susun rumusan masalah. Gunakan bentuk pertanyaan atau pernyataan yang jelas sesuai pedoman kampus dan pendekatan penelitian.
- Periksa kesesuaiannya. Pastikan rumusan masalah tetap berkaitan dengan topik dan persoalan yang telah dijelaskan, serta memungkinkan untuk dijawab melalui penelitian.
Setelah rumusan masalah selesai, periksa pula kesesuaiannya dengan tujuan penelitian. Tujuan penelitian seharusnya menggambarkan sasaran yang ingin dicapai untuk menjawab rumusan masalah tersebut.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Ada beberapa kekeliruan yang dapat membuat identifikasi masalah dan rumusan masalah tidak konsisten.
- Menyalin seluruh identifikasi masalah menjadi rumusan masalah. Akibatnya, fokus penelitian bisa terlalu luas dan sulit dijawab dalam satu penelitian.
- Membuat rumusan masalah yang tidak berasal dari pembahasan sebelumnya. Pertanyaan penelitian menjadi tidak memiliki pengantar yang memadai.
- Menggunakan pertanyaan yang terlalu umum. Pertanyaan yang tidak jelas dapat menyulitkan peneliti menentukan data yang dibutuhkan.
- Menambahkan persoalan baru dalam rumusan masalah. Pertanyaan tersebut seharusnya memiliki hubungan yang jelas dengan masalah yang telah diidentifikasi.
- Tidak menyesuaikan rumusan masalah dengan tujuan penelitian. Ketidaksesuaian ini dapat membuat arah penelitian menjadi tidak konsisten.
Untuk menghindarinya, pastikan hubungan antara persoalan yang ditemukan dan pertanyaan penelitian dapat dijelaskan secara logis. Periksa pula pedoman skripsi agar susunan dan bentuk penulisannya sesuai dengan ketentuan program studi.
Kesimpulan
Perbedaan identifikasi masalah dan rumusan masalah terletak pada fungsi serta tingkat fokusnya. Identifikasi masalah memetakan persoalan yang ditemukan, sedangkan rumusan masalah menyatakan pertanyaan atau fokus yang hendak dijawab melalui penelitian.
Keduanya saling berkaitan, tetapi tidak dapat dipertukarkan begitu saja. Identifikasi masalah membantu peneliti memahami ruang persoalan, sementara rumusan masalah memperjelas arah kajian agar tujuan, metode, dan pembahasan penelitian tetap konsisten.
FAQ
Apakah identifikasi masalah dan rumusan masalah harus memiliki jumlah yang sama?
Tidak harus. Beberapa persoalan dalam identifikasi masalah dapat mengarah pada satu fokus penelitian, bergantung pada ruang lingkup dan rancangan penelitian.
Mana yang ditulis lebih dahulu, identifikasi masalah atau rumusan masalah?
Dalam banyak format skripsi, identifikasi masalah ditulis sebelum rumusan masalah. Namun, urutan dan struktur akhirnya tetap perlu mengikuti pedoman yang ditetapkan kampus.
Apakah rumusan masalah harus berbentuk kalimat tanya?
Banyak pedoman menggunakan kalimat tanya untuk rumusan masalah, tetapi bentuk yang diperbolehkan dapat berbeda. Ikuti ketentuan kampus dan pastikan rumusan tersebut menyatakan fokus yang dapat dikaji.