Dalam penulisan akademik, satu paragraf sering memuat beberapa kalimat yang dikembangkan dari sumber yang sama. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: apakah sitasi harus dicantumkan di setiap kalimat, atau satu sitasi saja sudah cukup untuk menunjukkan sumber informasi?
Jawabannya bergantung pada gaya sitasi yang digunakan dan seberapa jelas hubungan antara sumber dengan kalimat-kalimat yang ditulis. Agar tidak mengulang sitasi secara berlebihan atau justru membuat sumber gagasan menjadi tidak jelas, berikut cara memahami penggunaan satu sitasi untuk beberapa kalimat.
Kapan Satu Sitasi Bisa Digunakan untuk Beberapa Kalimat?
Satu sitasi dapat mendukung beberapa kalimat berturut-turut apabila kalimat-kalimat tersebut masih merujuk pada sumber yang sama dan hubungan itu jelas bagi pembaca. Penulis tidak selalu perlu mengulang sitasi di setiap kalimat jika atribusi sumber sudah dinyatakan dengan tepat dan konteksnya tidak berubah.
Sebagai contoh, penulis sedang menjelaskan temuan sebuah penelitian yang mencakup beberapa informasi saling berkaitan. Jika seluruh penjelasan dalam satu rangkaian kalimat berasal dari penelitian yang sama, sitasi dapat diperkenalkan pada kalimat pertama, kemudian sumbernya tetap dibuat jelas melalui susunan paragraf.
Namun, aturan ini bukan berarti satu sitasi di akhir paragraf otomatis mencakup semua kalimat sebelumnya. Pembaca perlu dapat membedakan informasi yang bersumber dari penelitian tersebut dan penjelasan yang berasal dari analisis penulis sendiri.
Contoh Penggunaan Satu Sitasi dalam Beberapa Kalimat
Perhatikan contoh berikut. Nama penulis dan tahun yang digunakan merupakan ilustrasi, bukan referensi penelitian nyata.
Contoh yang sumbernya diperkenalkan sejak awal:
Menurut Pratama (2023), kebiasaan membaca secara teratur dapat membantu mahasiswa memperluas pemahaman terhadap materi perkuliahan. Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa kegiatan membaca yang dilakukan secara konsisten memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya.
Dalam contoh tersebut, nama penulis dan tahun diperkenalkan pada kalimat pertama. Kalimat berikutnya masih jelas merujuk pada penelitian yang sama sehingga atribusi tidak harus diulang secara mekanis, selama tidak muncul sumber atau pembahasan lain yang membuat rujukannya ambigu.
Contoh ketika sumber perlu diperjelas kembali:
Menurut Pratama (2023), kebiasaan membaca secara teratur dapat membantu mahasiswa memperluas pemahaman terhadap materi perkuliahan. Sementara itu, penelitian Wulandari (2024) menemukan bahwa diskusi kelompok juga dapat membantu mahasiswa menguji pemahamannya terhadap materi.
Pada contoh kedua, terdapat dua sumber berbeda. Karena itu, setiap temuan perlu dihubungkan dengan sumber yang sesuai agar pembaca tidak mengira seluruh informasi berasal dari penelitian pertama.
Kapan Sitasi Perlu Diulang?
Pengulangan sitasi diperlukan ketika pembaca berisiko kehilangan kejelasan mengenai asal informasi. Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan antara lain:
- Sumber berubah. Ketika kalimat berikutnya menggunakan temuan dari penulis atau penelitian lain, cantumkan sitasi yang sesuai dengan sumber baru tersebut.
- Pembahasan berpindah ke paragraf baru. Jika paragraf berikutnya kembali membahas sumber yang sama, perkenalkan kembali sumbernya sesuai aturan gaya sitasi yang digunakan.
- Ada informasi dari penulis sendiri di antara uraian sumber. Perjelas batas antara temuan penelitian dan interpretasi pribadi agar keduanya tidak tercampur.
- Atribusi menjadi ambigu. Jika pembaca tidak dapat memastikan sumber dari suatu klaim, tambahkan sitasi atau susun ulang kalimat agar hubungannya lebih jelas.
Aturan teknis dapat berbeda menurut gaya sitasi. Dalam APA edisi ke-7, misalnya, bentuk sitasi dalam tanda kurung tetap mencantumkan tahun, sedangkan tahun dapat dihilangkan pada penyebutan naratif berikutnya dalam paragraf yang sama apabila sumbernya tetap jelas. Karena itu, perhatikan bentuk sitasi yang digunakan, bukan hanya jumlah kemunculannya.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Ada dua kekeliruan yang sering terjadi ketika penulis berusaha mengatur sitasi untuk beberapa kalimat. Pertama, mengulang sitasi yang sama pada setiap kalimat meskipun sumber dan pembahasannya tidak berubah sehingga paragraf terasa penuh dengan keterangan yang berulang.
Kedua, mencantumkan satu sitasi di akhir paragraf yang memuat banyak klaim dari berbagai sumber. Cara tersebut dapat menyulitkan pembaca untuk mengetahui klaim mana yang didukung oleh sumber tertentu.
Untuk menghindarinya, periksa setiap kalimat dan tanyakan apakah informasi tersebut berasal dari sumber yang sudah disebutkan, sumber lain, atau analisis sendiri. Jika batasnya jelas, penempatan sitasi akan lebih mudah ditentukan tanpa perlu mengulangnya secara berlebihan.
Kesimpulan
Satu sitasi bisa digunakan untuk beberapa kalimat apabila sumber yang dirujuk tetap sama dan hubungan antara sumber dengan seluruh informasi yang disampaikan jelas. Namun, satu sitasi tidak otomatis mencakup semua klaim dalam paragraf, terutama jika terdapat sumber berbeda atau interpretasi penulis sendiri.
Sebelum mengumpulkan karya ilmiah, periksa kembali setiap paragraf untuk memastikan semua gagasan dari sumber lain telah diberi atribusi yang tepat. Gunakan aturan gaya sitasi yang berlaku di kampus atau jurnal agar penulisannya konsisten.
FAQ
Apakah sitasi harus ditulis di setiap kalimat?
Tidak selalu. Jika beberapa kalimat masih merujuk pada sumber yang sama dan sumbernya tetap jelas, pengulangan sitasi dapat dihindari sesuai aturan gaya sitasi yang digunakan.
Bolehkah satu sitasi diletakkan di akhir paragraf?
Boleh dalam kondisi tertentu, tetapi penulis harus memastikan sumber dari setiap klaim tetap jelas. Satu sitasi di akhir paragraf tidak otomatis mencakup semua informasi sebelumnya.
Apakah aturan satu sitasi untuk beberapa kalimat sama dalam semua gaya sitasi?
Tidak. Setiap gaya sitasi memiliki aturan tersendiri, sehingga penulis perlu mengikuti panduan yang ditetapkan.