Poin penting yang perlu dipahami
Tools penelitian bukan untuk menggantikan proses berpikir peneliti, tetapi membantu pekerjaan administratif dan teknis agar proses penelitian lebih efisien. Berdasarkan berbagai pelatihan yang diselenggarakan di perguruan tinggi, pemanfaatan aplikasi pendukung justru membantu mahasiswa meminimalisir kesalahan teknis, terutama dalam penulisan daftar pustaka dan pencarian referensi berkualitas.
Step 1: Pencarian Ide dan Literatur Awal
Pada tahap ini, mahasiswa biasanya kesulitan menentukan judul dan menemukan referensi yang relevan. Tools yang direkomendasikan:
Consensus
Alat berbasis AI yang menyediakan fitur penyaringan berdasarkan tahun publikasi dan peringkat jurnal.
Perpustakaan Universitas Brawijaya dalam pendampingannya menyebut Consensus cukup bagus karena bisa mempercepat penelusuran literatur ilmiah dengan hasil yang lebih spesifik dan berkualitas. Tools ini juga mampu merangkum temuan ilmiah dalam bentuk evidence-based summary, sehingga kamu bisa cepat memahami inti penelitian tanpa membaca seluruh dokumen terlebih dahulu.
Publish or Perish (PoP)
Digunakan untuk mencari referensi penelitian dari basis data seperti Google Scholar dan Scopus. Dalam pelatihan di Sekolah Pascasarjana UGM, mahasiswa diajarkan menggunakan PoP untuk menemukan ide penelitian, lalu data yang diperoleh dianalisis menggunakan VOS Viewer.
Kapan digunakan?
Saat awal-awal menentukan topik dan sedang mengumpulkan minimal 20-30 jurnal sebagai landasan teori.
Kelebihan: Menghemat waktu pencarian manual.
Keterbatasan: Hasil tetap perlu diverifikasi karena tidak semua sumber yang muncul kredibel.
Notes: Gunakan kata kunci yang spesifik dan variasikan pencarian.
Step 2: Manajemen Referensi dan Sitasi
Di sinilah banyak mahasiswa terjebak dengan urusan teknis yang sebenarnya bisa diotomatisasi.
Mendeley dan Zotero
Dua aplikasi manajemen referensi yang paling banyak direkomendasikan. Microsoft Word, Zotero, dan Mendeley menjadi andalan dalam berbagai pelatihan penulisan skripsi.
Fitur unggulannya: menyimpan referensi otomatis, membuat sitasi sesuai gaya (APA, IEEE, dll.), dan menyusun daftar pustaka dalam hitungan detik. Pelatihan di SPs UGM menekankan bahwa penggunaan aplikasi ini meminimalisir kesalahan penulisan daftar pustaka.
Kapan digunakan?
Mulai dari menyusun Bab 2 (Tinjauan Pustaka) hingga penulisan akhir.
Kelebihan: Mengurangi kesalahan teknis sitasi.
Keterbatasan: Masih perlu diedit manual untuk beberapa aturan sitasi spesifik.
Notes: Install plugin-nya di Microsoft Word atau Google Docs.
Tahap 3: Analisis Data
JASP atau SPSS
Untuk skripsi kuantitatif, alat statistik seperti JASP (gratis) atau SPSS membantu mengolah data. Keduanya termasuk dalam rekomendasi berbagai panduan penelitian.
ATLAS.ti atau NVivo
Untuk penelitian kualitatif, alat ini membantu mengkode dan menganalisis data wawancara atau observasi.
Kapan digunakan?
Saat sudah memasuki tahap pengolahan data (Bab 4).
Kelebihan: Mempercepat proses perhitungan dan pengkodean.
Keterbatasan: Membutuhkan pemahaman dasar metodologi agar hasil analisis bisa diinterpretasi dengan benar.
Notes: Jangan asal klik, pahami dulu metode yang sesuai dengan desain penelitianmu.
Tahap 4: Penulisan dan Penyuntingan
Scispace atau Paperpal
Aplikasi berbasis AI yang membantu memahami, menyusun, dan menyunting karya ilmiah. Dalam sesi di Universitas Mulawarman, tools seperti Scispace dan Paperpal disebut bermanfaat untuk mendukung penulisan karya ilmiah yang kredibel dan efisien . Namun, penggunaannya tetap perlu memperhatikan etika akademik.
Kapan digunakan?
Saat menulis Bab 1-5, terutama untuk penyuntingan tata bahasa dan penyusunan kalimat.
Kelebihan: Memperbaiki tata bahasa akademik.
Keterbatasan: Terkadang kurang akurat untuk istilah teknis atau konteks lokal.
Notes: Selalu periksa ulang hasil suntingan AI.
Platform Pendukung yang Tak Kalah Penting
Sage Research Methods Platform digital yang membantu setiap tahapan proses penelitian. Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mensosialisasikan platform ini untuk mendukung kualitas riset mahasiswa. Platform ini sangat bermanfaat, terutama untuk memahami metode penelitian yang tepat.
SINTA dan GARUDA
Portal nasional yang mendukung visibilitas publikasi ilmiah di Indonesia. Keduanya direkomendasikan untuk mencari literatur dari jurnal nasional terakreditasi. Ini penting kalau kamu diminta dosen untuk menggunakan referensi dari dalam negeri.
Hal yang Perlu Diperhatikan
1. Jangan terlalu menggantungkan diri pada AI
Tools adalah asisten, bukan pengganti kemampuan berpikir kritis. Seperti diingatkan dalam berbagai pelatihan, mahasiswa perlu diedukasi bahwa AI adalah asisten, bukan penulis skripsi.
2. Perhatikan etika akademik
Jika menggunakan AI untuk penulisan, sebaiknya dicantumkan dalam bagian metodologi atau pendahuluan. Hindari mengunggah data sensitif penelitian ke server AI publik.
3. Pilih tools yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuanmu, bukan yang lagi tren
Mulailah dengan satu atau dua tools, kuasai, baru tambahkan yang lain.
FAQ
Apa menggunakan AI untuk skripsi dianggap curang?
Tidak juga, asal digunakan sebagai alat bantu, bukan untuk menulis seluruh isi skripsi. Pakai AI untuk mencari referensi, menyunting tata bahasa, atau menyusun kerangka, tapi pastikan konten dan analisis tetap merupakan pemikiranmu sendiri. Beberapa kampus bahkan mulai menyediakan sistem bimbingan berbasis AI untuk membantu mahasiswa.
Tools mana yang wajib dikuasai mahasiswa?
Paling tidak kuasai satu aplikasi manajemen referensi (Mendeley/Zotero), dan satu alat pencari literatur (Google Scholar, Scopus, atau Consensus). Keduanya paling sering dipakai dan sangat membantu di hampir semua tahap penelitian.
Apakah semua tools ini berbayar?
Tidak. Mendeley, Zotero, JASP, dan Google Scholar gratis. Consensus memiliki versi gratis dengan fitur terbatas. SPSS dan NVivo berbayar, tetapi biasanya kampus menyediakan akses untuk mahasiswa. Cek fasilitas di perpustakaan atau laboratorium kampusmu.