Metode Penelitian Mahasiswa

Tips Menyusun Kajian Pustaka Skripsi

Cara menyusun kajian pustaka skripsi yang bukan sekadar rangkuman jurnal. Ubah referensimu jadi sintesis terstruktur. Baca tips lengkapnya di sini!

25 Agustus 2026 Salwa Aliyyah ยท SEO Writer 4 menit baca
Tips Menyusun Kajian Pustaka Skripsi
Mungkin kamu pernah merasa Bab 2 skripsi yang ditulis malah mirip kumpulan ringkasan jurnal yang kurang nyambung. Banyak mahasiswa mengalami hal serupa, dengan pola "jurnal A bilang begini, jurnal B bilang begitu" tanpa ada benang merah yang jelas. Padahal, dosen pembimbing tidak butuh membaca ulang isi jurnal yang sudah dia pahami. Yang dicari adalah bagaimana kamu bisa merangkai semua referensi itu menjadi satu narasi utuh, yang menjadi fondasi penelitianmu. 

Nah, artikel ini akan membahas cara keluar dari kebiasaan merangkum jurnal satu per satu, menuju kajian pustaka yang benar-benar tersintesis dan terstruktur. Yuk, kita satu per satu di sini.

Definisi Kajian Pustaka

Menurut Modul Pembelajaran dari Kemdiktisaintek, tinjauan pustaka adalah bagian terpenting dari sebuah karya ilmiah yang berfungsi sebagai "penegasan atas batas-batas logis penelitian dan menjadi petunjuk bagi peneliti untuk memperhitungkan apa yang relevan dan apa yang tidak relevan".

Jadi, kajian pustaka itu bukan sekadar tempelan abstrak jurnal. Fungsinya jauh lebih besar: ia memposisikan penelitianmu dalam konteks pengetahuan yang sudah ada, mencegah kamu "menemukan kembali roda", dan menyusun kerangka berpikir yang jelas. Dengan kata lain, ini adalah peta yang menunjukkan di mana posisi penelitianmu di tengah perdebatan akademik yang sudah berlangsung.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Mahasiswa

Sebelum masuk ke tips, yuk kenali dulu dua kesalahan paling umum:

1. Menulis tinjauan pustaka seperti daftar belanja, setiap jurnal dijelaskan sendiri-sendiri tanpa pernah dibandingkan. Dosen biasanya menyebut ini "kajian yang belum disintesis".

2. Plagiarisme atau misrepresentasi, baik secara sengaja maupun tidak, mengubah makna karya orang lain atau menggunakan idenya tanpa pengakuan yang tepat.

Kedua hal ini bikin Bab 2 kamu terkesan asal-asalan dan nggak menunjukkan kemampuan berpikir kritis. Padahal, seperti yang tertulis dalam panduan penulisan proposal dari UNY, penelitian terdahulu harus diulas secara kritis dan komparatif, serta menunjukkan gap penelitian dan keunikannya.

4 Step Menyusun Kajian Pustaka yang Tersintesis

1. Mulai dari Keyword, bukan Jurnal

Jangan langsung buka Google Scholar dan asal download. Luangkan waktu untuk mengidentifikasi kata kunci utama dari topik penelitianmu. Dari situ, kamu bisa menentukan arah pencarian literatur yang lebih terfokus.

Tips: Cari minimal 10-15 referensi yang memiliki kaitan erat dengan topikmu, baik berupa buku teks maupun artikel ilmiah.

2. Baca, Catat dan Petakan

Saat membaca, jangan cuma highlight. Buat catatan ringkas yang mencakup:

  • Apa temuan utamanya?
  • Metode apa yang dipakai?
  • Apa kelebihan serta kekurangannya?

Kamu juga bisa membuat literature map, semacam peta yang menunjukkan hubungan antar penelitian, siapa sepakat dengan siapa, dan di mana letak perbedaannya. Ini akan sangat membantu saat kamu mulai menulis.

3. Bandingkan, Jangan Hanya Rangkum

Ini inti dari sintesis. Setelah punya beberapa referensi, tanyakan pada diri sendiri:

  • Apa persamaan dan perbedaan temuan mereka?
  • Metode mana yang lebih tepat untuk penelitianku?
  • Apakah ada hasil yang bertentangan? Kalau iya, mengapa?

Tinjauan pustaka yang baik adalah uraian sistematis tentang teori yang menjadi pijakan dalam menyusun kerangka berpikir. Jadi, kamu harus mampu menghubungkan satu teori dengan teori lain, bukan sekadar memajangnya.

4. Tulis dengan Alur/Flow yang Jelas

Jangan asal tulis. Ikuti alur dari teori umum ke spesifik, dari konsep dasar menuju aplikasi. Pastikan ada benang merah antara satu subbab dengan subbab berikutnya, agar pembaca bisa memahami hubungan antarbagian.

Sumber Pustaka yang Kredibel, Jangan Asal Pilih

Kualitas kajian pustakamu sangat ditentukan oleh kualitas sumber yang kamu pakai. Menurut panduan dari Universitas Pendidikan Ganesha, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Gunakan pustaka primer (sitasi langsung) minimal 70%.
  • Prioritaskan sumber dari 5 tahun terakhir, kecuali untuk teori-teori dasar yang memang klasik.
  • Sumber bisa berasal dari jurnal ilmiah, buku teks, atau artikel dari institusi terpercaya, bukan dari blog pribadi atau Wikipedia.

Menyusun kajian pustaka itu seperti merangkai puzzle. Kamu nggak cukup hanya mengumpulkan potongan-potongan (baca: jurnal) lalu memajangnya. Kamu harus menyambungkan satu potongan dengan potongan lain hingga terbentuk gambaran utuh dan dari situ, kamu bisa melihat bagian mana yang masih kosong (itulah gap penelitianmu).

Dengan pendekatan sintesis, Bab 2 skripsimu nggak cuma enak dibaca, tapi juga menunjukkan bahwa kamu benar-benar menguasai topik yang kamu teliti.

Yuk, mulai sekarang ubah cara pandangmu tentang kajian pustaka. Bukan sekadar tugas, tapi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan berpikirmu!

FAQ

Berapa minimal jumlah referensi untuk kajian pustaka skripsi?

Nggak ada angka pasti yang resmi, tetapi umumnya mahasiswa diharapkan mengkaji paling kurang 15 referensi yang memiliki kaitan erat dengan topik penelitian, baik berupa buku teks maupun artikel ilmiah.

Apa bedanya tinjauan pustaka dengan daftar pustaka?

Tinjauan pustaka berisi kajian atau ulasan dari literatur yang digunakan, yaitu isi dan analisisnya. Sedangkan daftar pustaka hanya memuat nama sumber (daftar referensi) yang diletakkan di bagian paling akhir karya ilmiah.

Bagaimana cara menghindari plagiarisme saat menulis kajian pustaka?

Gunakan teknik parafrase (tulis ulang dengan bahasa sendiri), jangan copy-paste langsung. Selalu cantumkan sumber setiap kali kamu mengutip ide atau temuan orang lain, dan pastikan kamu tidak mengubah atau menyesatkan makna karya yang dirujuk.

#kajian pustaka #tinjauan pustaka #karya ilmiah #penelitian terdahulu #skripsi #mahasiswa