Plagiarisme Integritas Akademik Penulisan Ilmiah

Menerjemahkan Jurnal Bukan Berarti Bebas dari Plagiarisme

Menerjemahkan jurnal tidak membuat gagasan menjadi milik sendiri. Pahami mengapa terjemahan tetap membutuhkan atribusi dalam karya akademik.

26 Agustus 2026 Nisrina Putri Dayani ยท SEO Article Writer 3 menit baca
Menerjemahkan Jurnal Bukan Berarti Bebas dari Plagiarisme

Menerjemahkan jurnal ke bahasa Indonesia tidak otomatis membuat isinya menjadi karya orisinal. Jika gagasan, data, temuan, atau informasi yang digunakan tetap berasal dari penulis asli, sumber tersebut tetap perlu diakui dalam karya akademik.

Perubahan bahasa hanya mengubah cara sebuah informasi disampaikan, bukan kepemilikan atas gagasan tersebut. Karena itu, terjemahan dari jurnal tetap perlu diperlakukan sebagai penggunaan sumber, terutama ketika isinya dimasukkan ke dalam tugas, makalah, proposal, atau skripsi.

Terjemahan Tidak Mengubah Kepemilikan Karya

Ketika sebuah paragraf berbahasa Inggris diterjemahkan ke bahasa Indonesia, susunan katanya memang berubah karena mengikuti bahasa tujuan. Namun, isi dan gagasan yang disampaikan masih berasal dari karya penulis sebelumnya.

Misalnya, seorang mahasiswa menerjemahkan penjelasan mengenai hasil penelitian dari jurnal berbahasa Inggris lalu memasukkannya ke dalam pembahasan tugas. Meskipun tidak ada kalimat bahasa Inggris yang disalin secara langsung, informasi tersebut tetap berasal dari jurnal sehingga sumber aslinya perlu dicantumkan.

Mengapa Terjemahan Tetap Membutuhkan Atribusi?

Dalam penulisan akademik, atribusi menunjukkan kepada pembaca dari mana gagasan atau informasi tertentu diperoleh. Prinsip ini tidak hilang hanya karena sumber tersebut diterjemahkan ke bahasa lain.

Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya kesamaan kata, tetapi juga asal gagasan yang digunakan. Jika pembaca tidak diberi tahu bahwa suatu informasi berasal dari penelitian orang lain, terjemahan tersebut dapat memberikan kesan seolah-olah informasi itu merupakan hasil pemikiran atau penemuan penulis sendiri.

Menerjemahkan Berbeda dengan Menghasilkan Gagasan Sendiri

Terjemahan dan gagasan asli memiliki fungsi yang berbeda dalam karya ilmiah. Terjemahan menyampaikan kembali isi dari sumber lain, sedangkan gagasan penulis sendiri merupakan hasil analisis, interpretasi, atau pemikiran yang dikembangkan berdasarkan pembahasan yang dilakukan.

Karena itu, mengganti bahasa tidak cukup untuk membuat sebuah tulisan menjadi orisinal. Bahkan ketika mahasiswa menyusun ulang beberapa bagian hasil terjemahan agar lebih sesuai dengan gaya tulisannya, sumber tetap perlu diakui apabila gagasan utamanya masih berasal dari karya orang lain.

Contoh Penggunaan Terjemahan dalam Tugas

Bayangkan sebuah jurnal menjelaskan bahwa hasil penelitian tertentu menunjukkan adanya hubungan antara dua variabel. Mahasiswa kemudian menerjemahkan penjelasan tersebut ke bahasa Indonesia dan menggunakannya untuk mendukung argumen dalam tugas.

Masalahnya bukan terletak pada penggunaan bahasa Indonesia, melainkan pada apakah mahasiswa memberikan pengakuan kepada penelitian yang menjadi sumber informasi tersebut. Dengan mencantumkan sumber sesuai pedoman yang berlaku, pembaca dapat membedakan temuan penelitian sebelumnya dari analisis mahasiswa sendiri.

Kapan Terjemahan Menjadi Masalah Akademik?

Terjemahan dapat menjadi masalah ketika mahasiswa mengambil isi karya orang lain tanpa atribusi yang sesuai dan menyajikannya sebagai tulisan atau gagasannya sendiri. Hal serupa dapat terjadi ketika bagian yang diterjemahkan diperlakukan seperti hasil pemikiran pribadi hanya karena teks aslinya sudah tidak menggunakan bahasa sumber.

Sebaliknya, penggunaan sumber yang diterjemahkan secara transparan memungkinkan pembaca mengetahui asal informasi tersebut. Bentuk sitasi dan cara mencantumkannya dapat mengikuti pedoman akademik kampus, gaya sitasi, atau ketentuan jurnal yang digunakan.

Terjemahan Tidak Harus Dihindari

Menggunakan sumber berbahasa asing bukan sesuatu yang harus dihindari hanya karena sumber tersebut perlu diterjemahkan. Yang penting adalah penggunaannya tetap transparan dan tidak mengaburkan kontribusi penulis asli.

Terjemahan bahkan dapat membantu mahasiswa memahami penelitian dari literatur internasional yang relevan. Persoalannya bukan apakah sumber diterjemahkan, melainkan apakah sumber tersebut tetap diakui ketika gagasannya digunakan dalam karya akademik.

Kesimpulan

Menerjemahkan jurnal tidak membuat seseorang bebas dari kewajiban memberikan atribusi. Bahasa dapat berubah dari Inggris menjadi Indonesia, tetapi gagasan, data, dan temuan yang berasal dari penulis asli tetap harus diakui.

Karena itu, jangan menjadikan perubahan bahasa sebagai ukuran utama orisinalitas. Dalam penulisan akademik, yang lebih penting adalah kejelasan mengenai mana informasi dari sumber dan mana pemikiran penulis sendiri.

FAQ

Apakah menerjemahkan jurnal tanpa mencantumkan sumber termasuk plagiarisme?

Terjemahan tanpa atribusi dapat menjadi bentuk penggunaan karya orang lain tanpa pengakuan yang semestinya. Penilaiannya tetap bergantung pada konteks dan aturan integritas akademik yang berlaku di institusi.

Apakah jurnal yang sudah diterjemahkan tetap harus disitasi?

Ya, jika gagasan, informasi, data, atau temuan dari jurnal tersebut digunakan dalam tulisan. Perubahan bahasa tidak menghilangkan asal sumber.

Apakah menerjemahkan lalu memparafrasekan tetap perlu sitasi?

Ya. Jika gagasan yang menjadi dasar tulisan masih berasal dari sumber tersebut, sitasi tetap diperlukan meskipun mahasiswa sudah menerjemahkan dan menyusun ulang penyampaiannya.

#plagiarisme #terjemahan jurnal #sitasi #integritas akademik #karya ilmiah #jurnal